

Apakah Anda pernah diberikan tips oleh teman atau broker bahwa harga sebuah saham akan naik? Lalu keesokan harinya harga saham tersebut naik lebih dari 15% dan Anda menyesal tidak membelinya kemarin. Kemudian ketika harga saham tersebut turun 5%, Anda lalu membeli saham tersebut dan berharap akan mengikuti keuntungan yang diterima teman atau broker Anda. Contoh lainnya, Anda melihat teman Anda memperoleh penghasilan tambahan dari investasi properti, namun ketika Anda terjun ke investasi properti, harga properti tidak bergerak ke mana-mana.
Perilaku herding atau ikut-ikutan dapat ditemui di berbagai aspek kehidupan, bukan hanya di dunia investasi. Kita cenderung menggunakan pakaian yang sedang tenar saat ini, makan di tempat yang kebanyakan orang makan, bahkan berkumpul di tempat yang banyak dikunjungi orang. Berikut ini beberapa alasan mengapa herding adalah sesuatu yang biasa:
Pertama, insting evolusi. Sejak zaman dahulu bukan sesuatu yang mengejutkan, jika manusia bisa bertahan karena mengikuti suatu kelompok. Probabilitas orang untuk bertahan hidup sendiri lebih kecil daripada hidup berkelompok.
Kedua, keamanan dalam jumlah. Berbuat salah menimbulkan perasaan yang tidak nyaman bagi seorang individu, terlebih jika kesalahan tersebut diemban seorang diri. Namun jika kesalahan ini dilakukan secara bersama, perasaan bersalah seakan berkurang karena adanya keselarasan dengan orang lain.
Ketiga, informasi. Jika sedang berada di daerah baru dan mencari tempat untuk makan, seseorang akan cenderung mencari tempat yang banyak dikunjungi. Tempat makan yang kosong memberi kita informasi bahwa ada sesuatu hal yang kurang dari tempat tersebut.
Dalam investasi saham, aksi jual-beli yang terlampau sering akan membuat pemain baru hanya tertarik pada mereka yang memperoleh keuntungan. Apalagi ditambah dengan cerita-cerita positif bagaimana seseorang sukses menggunakan strategi mereka. Hal ini membuat strategi momentum dinilai lebih menguntungkan, paling tidak dalam jangka pendek. Namun hal ini juga yang bisa membuat bubble dan membuat harga saham turun drastis. Sebagai manusia, berbeda sendiri menjadi hal yang sangat susah untuk dilakukan apalagi di waktu panic. FoMO, fear of missing out, akan meningkatkan kegelisahan dan membuat rasionalitas seseorang dalam bertransaksi saham menjadi berkurang.
Sebagai investor yang bijaksana, tentu herding bukanlah perilaku yang optimal. Hal yang perlu ditanamkan pada benak investor adalah opini 1,000 orang tidak semata-mata membuat sesuatu menjadi fakta. Bahkan seseorang yang berprofesi sebagai Investment Analyst terkenal pun dapat melakukan kesalahan. Ikut-ikutan boleh saja, namun harus tetap melakukan analisa mendalam terhadap sebuah saham sebelum mulai berinvestasi. Maka dari itu investor harus benar-benar selektif dalam memilih instrumen investasi termasuk memilih Manajer Investasi.
Nah, memasuki tahun baru 2018, tak ada salahnya Anda memilih perusahaan Manajer Investasi (MI) regional yang berpengalaman seperti PT CIMB-Principal Asset Management. MI ini mengelola beragam produk Reksa Dana dan PDNI (Pengelolaan Dana Nasabah Individual) bagi investor institusi dan perorangan di Indonesia.
PT CIMB-Principal Asset Management berdiri sejak tahun 2007, didukung oleh CIMB Group – salah satu perusahaan keuangan terbesar di kawasan ASEAN, dan Principal Financial Group – perusahaan jasa keuangan skala global dalam daftar Fortune500. Total dana kelolaan PT CIMB-Principal Asset Management di bulan Desember 2017 mencapai Rp 7.8 Triliun. Sedangkan total dana kelolaan CIMB-Principal Asset Management Bhd dan Principal Financial Group di bulan Juni 2017 tercatat sebesar MYR 69.7 Miliar dan USD 629.4 Miliar. PT CIMB-Principal Asset Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Dipersembahkan oleh : PT CIMB-Principal Asset Management.