

Hari gini, apa sih yang nggak bisa dicicil ?
Indahnya hidup di masa sekarang: semua bisa dicicil. Mulai dari baju, panci, ponsel, sampai mobil dan rumah. Bahkan, makan siang pun bisa dicicil. Ini fenomena ajaib. Setelah sekali round trip ke toilet, tidak lagi tersisa jejak-jejak menu lezat lunch tadi siang. Yang tertinggal cuma tagihan yang diberi fasilitas cicilan tetap hingga berbulan-bulan kemudian. Jadi nggak asik, ya ?
Kenapa ya, setiap kali mendengar kata “nyicil” yang melekat di benak adalah kegiatan memuaskan keinginan saat ini, walaupun sebenarnya belum mampu, dan membebankan tagihannya pada hidup kita selanjutnya? Padahal, nggak semua cicilan harus mengenai benda-benda yang berfungsi menyenangkan hati. Padahal, nggak semua cicilan musti mengenai konsumerisme, hidup penuh gaya walaupun kantong merana.
Masa depan juga bisa dicicil !
Kalo kita kerap berjuang untuk memuaskan keinginan impulsif kita, kenapa kita tidak mengalokasikan jumlah usaha yang sama untuk menjamin hidup kita di kemudian hari? Kebanyakan orang, ketika ditanya “pensiun mahal atau murah”, bisa menjawab kompak bagaikan kelompok paduan suara jawara internasional, “mahaaaaaallll…”. Tapi coba tanya lebih lanjut, “mahalnya seberapa?”. Dijamin: diem semua.
Nah, biar nggak ngeblank, coba kita itung. Asumsi: biaya hidup kita setelah pensiun nanti Rp5 juta sebulan. Artinya pas menginjak usia pensiun nanti, minimal kita punya sejumlah uang yang bunga atau imbal hasilnya mencapai Rp5 juta sebulan. Misalnya, kita bercita-cita setelah pensiun nanti bisa hidup dari bunga deposito. Dengan bunga deposito (nett) 5% per tahun, artinya untuk menghasilkan Rp5 juta per bulan, kita perlu memiliki modal sekitar Rp1,2 miliar. Gubrak !!
Nggak mungkin? Kata siapa??
Jelas nggak mungkin kalo kita cuma mengandalkan sisa-sisa gaji bulanan. Ibarat makan onde-onde, sisanya tinggal remahan wijennya doang. Kapan mau sampe? Cara cerdik kalo modal kita terbatas adalah: cari suplemen yang lebih greng dibanding bunga tabungan minimalis yang rata-rata ditawarkan bank saat ini.
Coba lirik alternatif investasi pasar modal. Dalam jangka panjang, instrumen-instrumen pasar modal seperti saham, obligasi, dan pasar uang, berpotensi memberikan imbal hasil lebih tinggi dibanding bunga tabungan bank. Sebagai perbandingan, misalnya kalau kita punya waktu 25 tahun sampai masa pensiun, Rp1,2 miliar dapat dicapai dengan menyisihkan lebih dari Rp3 juta di tabungan bank yang memberikan bunga 2% per tahun. Sedangkan, melalui investasi dengan imbal hasil 10% per tahun, kita cukup menyisihkan Rp900 ribu per bulan untuk mencapai angka keramat Rp1,2 miliar tadi. Jauh, kan?
Kunci berikutnya adalah waktu. Iya nggak sih, nyicil apapun, jika jangka waktunya panjang, akan lebih terjangkau dibandingkan dengan jangka waktu mepet. Nah, supaya nggak ngos-ngosan di akhir, jangan pernah menunda. Mulai investasimu sekarang juga?
Catatan Maha Puentiiingg…
Walaupun kita bisa aja investasi di berbagai instrumen seperti emas, properti, kambing, lukisan, atau batu akik, ada satu alternatif investasi lagi yang perlu dikenal, yaitu Reksa Dana. Reksa Dana adalah produk investasi yang di dalamnya terdapat berbagai instrumen dasar seperti saham, obligasi, dan pasar uang.
Asyiknya, karena terdiri dari banyak saham, obligasi, dan pasar uang, petuah Om Warren Buffett sebagai dedengkot investasi, sudah terpenuhi: “Do not put all your eggs in one basket”. Asyiknya lagi, Reksa Dana adalah alternatif investasi buat semua orang. Gimana enggak? Kita dapat berinvestasi di produk-produk reksa dana mulai dari Rp100.000,-. Seru kan?
#yaREKSADANAaja #SekarangAja